Selasa, 16 Agustus 2011

Tempat Asyik Buat Ngabuburit Part I : Menara Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung
Anda bingung mencari tempat asyik buat ngabuburit?

Jika Anda kebetulan berada di Bandung, berkunjunglah ke daerah pusat Kota Bandung. Tepatnya di daerah Alun-Alun Kota Bandung. Disana terdapat banyak sekali tempat ngabuburit yang asyik, salah satunya yaitu Menara Masjid Raya Bandung.


Di atas menara masjid yang memiliki ketinggian sekitar 86,79 meter ini, Anda bisa melihat dan dimanjakan dengan pemandangan Kota Bandung, bahkan jika cuaca cerah Gunung Tangkuban Parahu yang berada di wilayah Bandung Utara juga bisa dilihat.

Setiap hari di bulan biasa, menara ini dibuka hanya setiap hari Sabtu dan Minggu. Tapi khusus unuk bulan Ramadhan, menara masjid selalu dibuka setiap hari untuk masyarakat umum.


Setiap pengunjung yang akan menaiki menara Masjid Raya Bandung ini, dikenai tarif sebesar Rp2.000,-.
Lama pengunjung yang berada di atas menara juga tidak dibatasi, biasanya bila menara sudah penuh pengunjung yang sudah lebih dulu naik suka turun sendiri. Rata-rata mereka di atas menara selama 15 menit. Adapun kapasitas menara sendiri sebanyak 70 orang.

Pemandangan dari Menara Selatan Masjid Raya Bandung

Bila adzan maghrib tiba tak usah khawatir, disekitar masjid biasanya banyak sekali pedagang makanan takjil. Biasanya makanan yang akan sering ditemui adalah pedagang Cendol, Es Durian, Kurma, dan Panganan ringan lainnya.

Sumber : antaranews.com






Selasa, 05 Juli 2011

Piramida di Kabupaten Bandung

Pernah dengar ada piramida di Bandung?
Yang ini pasti unik dan baru didengar.

Gunung Lalakon
Piramida yang dimaksud tidak lain berupa gunung yang bernama Gunung Lalakon, yang terletak di Desa Jelegong, Kecamatan Kotawaringin, Kabupaten Bandung. 
Letaknya tidak jauh dari Kampung Badaraksa yang berada di ketinggian sekitar 720 m di atas permukaan laut. Tinggi Gunung Lalakon ini adalah  988 meter dari permukaan laut.

Menurut Agung Bimo Sutedjo, yaitu Arkeolog pendiri Yayasan Turangga Seta yang meneliti Gunung Lalakon, ada sejumlah piramid di Indonesia. Salah satu informasi awal didapatkan dari tafsiran terhadap relief Candi Penataran. 

Turangga Seta percaya bahwa kebudayaan Nusantara lebih tua daripada Kebudayaan Sumeria, Mesir, atau Maya. Mereka haqul yakin Indonesia memiliki situs candi atau piramida yang lebih banyak dan lebih megah dari peradaban Mesir dan Maya. 

Secara geomorfologis, bentuk Gunung Lalakon di Bandung memiliki bentuk yang mirip dengan piramida. Mereka memiliki empat sisi yang nyaris simetris. 

Gunung Lalakon dikelilingi beberapa bukit lain seperti bukit Paseban, Pancir, Paninjoan, Pasir Malang. Di bukit Paseban ada tiga buah batu, yang dua di antaranya terdapat telapak kaki manusia dewasa, dan telapak kaki anak-anak. 

Di Gunung Lalakon juga terdapat beberapa situs batuan, seperti Batu Lawang, Batu Pabiasan, Batu Warung, Batu Pupuk, Batu Renges, Batu gajah, dan sebuah batu panjang yang terletak di atas puncak. 

Menurut Abah Acu, tokoh masyarakat Kampung Badaraksa, secara filosofis, Gunung Lalakon adalah perlambang sebuah lakon dari kehidupan manusia. Batu-batu tadi merepresentasikan berbagai lakon atau profesi yang dipilih oleh manusia. 

Namun, keberadaan batu-batu tadi kerap disalahgunakan. Banyak orang datang ke tempat batu di Gunung Lalakon mencari pesugihan. Bahkan, menurut Jujun, tokoh agama Islam di tempat itu, dulu banyak orang datang ke Batu Gajah mencari ilham judi buntut. “Banyak pula yang berhasil menang,” kata Jujun. 

Jujun menerangkan, di Gunung Lalakon secara rutin juga digelar acara ritual tolak bala, yakni dengan membuat nasi tumpeng kemudian dibagikan dan dimakan oleh penduduk. “Acara ini diadakan setiap tahun, biasanya setiap tanggal 1 Syuro.” 






Kamis, 02 Juni 2011

Car Free Day di Kota Bandung Membuat Bandung Sejuk Kembali

Setiap hari Minggu pagi dari pukul 06.00 WIB sampai dengan  10.00 WIB, di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda (Dago) dan Jl. Merdeka, Kota Bandung, kendaraan bermotor dilarang masuk. Polisi, DLLAJ dan SATPOL PP sudah siap menjaga di sepanjang Jalan Dago dan Jalan Merdeka. Bukan karena ada festival atau demonstrasi mahasiswa. Tetapi mereka menjaga ketertiban kegiatan rutin "Car Free Day" di Kota Bandung.
Landmarks of Dago
Sejak pukul 05.30 WIB, kawasan Dago hingga Dipati Ukur mulai dipenuhi warga Kota Bandung dan luar Kota Bandung yang berolah raga pagi dan sekedar jalan-jalan untuk menghirup udara segar Bandung di pagi hari. Tak lupa para pedagang yang ikut meramaikan Car Free Day ini, walaupun pedagang sebenarnya dilarang masuk ke kawasan Car Free Day. Para pedagang sebenarnya sudah diberikan tepat khusus untuk berjualan.
Kawasan Car Free Day
Sekitar pukul 07.00 WIB, kawasan Dago mulai dipenuhi oleh orang-orang yang secara antusias berkumpul dan berolahraga disana. Terkadang terlihat komunitas-komunitas yang sedang berkumpul di Car Free Day tersebut. Seperti komunitas sepeda tua, komunitas pecinta budaya Sunda, dan komunitas-komunitas lainnya. Anda juga bisa menikmati hiburan murah meriah, yaitu menunggang kuda mengelilingi kawasan Car Free Day.
Komunitas Pecinta Sepeda Tua
Komunitas Pecinta Sepeda Tua
Barulah sekitar 09.30, kawasan ini tampak lengang walaupun masih ada beberapa orang yang masih asyik menikmati kegiatan seminggu sekali ini. Dan sampah pun mulai tampak berserakkan di area Car Free Day ini. Tinggal petugas kebersihanlah yang bekerja untuk membersihkan sampah yang ditinggalkan para pengunjung Car Free Day. Memang merupakan hal yang disayangkan.
Petugas Kebersihan Car Free Day Kota Bandung
Pukul 10.00 WIB, akhirnya kendaraan bermotor sudah mulai bisa menggunakan Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan Merdeka lagi.


Diharapkan, untuk para pengunjung Car Free Day : "Harap buang sampah pada tempat sampah yang sudah disediakan!"


Mudah-mudahan Car Free Day juga diadakan di daerah Bandung Raya lainnya. Seperti Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.