Minggu, 06 Februari 2011

Kang Dodong Kodir : Seniman Daur Ulang

Seorang seniman asli Bandung bernama Dodong Kodir telah membuka pemikiran kita tentang sampah daur ulang. Dulu sampah daur ulang hanya bisa diolah menjadi sebuah kerajinan tangan untuk hiasan saja. Tapi di tangan Dodong Kodir, sampah daur ulang ini bisa diolah menjadi berbagai alat musik etnis yang unik.

Kang Dodong dengan Chicken Drum nya
Courtesy : mahanagari.multiply.com
Kang Dodong memetik Alpedo
Courtesy : mahanagari.multiply.com
Semua berawal ketika ia mengajar kelompok karawitan dan tari di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung dan juga seniman karawitan yang memainkan suling. Pada saat itu ia merasa bosan dengan alat musik Sunda yang itu-itu saja dan nada yang dimainkannya pun monoton. Sehingga ia berinisiatif untuk membuat sebuah alat musik yang berbeda dari yang lain.

Karya pertamanya adalah berupa suling bambu besar yang terbuat dari bambu rusak yang menghasilkan bunyi yang berbeda dari suling pada umumnya.

Telah banyak alat musik unik yang dibuat oleh Kang Dodong, seperti Alpedo (Alat Petik Buatan Dodong), Bellkuadalima, Chicken Drum, Jirame, Jumene, Whistledong (Whistle=Flute buatan Dodong), Sekdong (Alat musik gesek buatan Dodong), Sulangsong (Suling asal Songsong), Basdong (Bas buatan Dodong) dan banyak lainnya.

Bellkuadalima
Courtesy : mahanagari.multiply.com
Jirame
Courtesy : mahanagari.multiply.com
Kang Dodong meniup Jumene
Courtesy : mahanagari.multiply.com

Kang Dodong juga membuat instrument yang bunyinya mirip dengan bunyi alam, seperti Tornadong yang bunyinya seperti petir, angin dan ombak.


Kang Dodong dengan instrumen alamnya
Tornadong
Alat musik ciptaan Kang Dodong sempat akan diborong oleh UNESCO, tetapi kang Dodong tidak menjualnya karena ia beranggapan bahwa "Uang itu mudah didapat, tapi ide itu sulit didapat."


Kang Dodong di Spanyol
Courtesy : galuh-purba.com
Kang Dodong pun sering sekali memenuhi undangan dari negara lain utnuk menunjukan karya-karya yang ia buat. Yunani, Jepang, Spanyol dan Perancis adalah beberapa negara yang pernah ia kunjungi. Bahkan salah satu karyanya dipajang di sebuah museum seni di Yunani.
Kecapi Tabung Mesin Cuci
Bila Anda ingin lebih mengenal Kang Dodong Kodir ini, Anda bisa mengunjungi facebooknya pada link di bawah ini :








Sabtu, 05 Februari 2011

Sepanjang Jalan Braga

          Jalan Braga           
Jalan Braga merupakan jalan yang dulunya merupakan tempat berkumpulnya kolonial Belanda untuk sekedar shopping atau pamer apa yang mereka punya dan kemudian menjadi cikal bakal sebutan Parisj van Java untuk Kota Bandung. Tapi sekarang menjadi salah satu icon Kota Bandung yang wajib dikunjungi oleh wisatawan domestic dan mancanegara.

Jalan Braga Sign
Memang tak banyak yang berubah dari bentuk bangunan di Jalan Braga ini, namun ada beberapa bangunan yang beralih fungsi. Seperti salah satu bangunan yang dulunya merupakan sebuah bar yang beralih fungsi menjadi sebuah kafe. Bahkan sekarang terdapat sebuah mall yang terletak diantara bangunan-bangunan bersejarah Braga. Hal itu memang memiliki dampak positif dan negatifnya.

Tapi memang tak terpungkiri saat kita memasuki Jalan Braga, suasana unik terasa bila di banding daerah lainnya di Kota Bandung. Jalan Braga serasa membawa kita ke tengah perkotaan di Eropa. Banyak pejalan kaki yang berjalan di trotoar dan arsitektur bangunan yang sangat Eropa menambah kesan Eropa nya.

Sekarang di emperan Jalan Braga banyak terdapat penjual lukisan dan sketsa wajah bertebaran. Diantaranya juga terdapat lukisan-lukisan yang berasal dari Jelekong. Hal ini bagi sebagian orang memang mengganggu keindahan kota. Namun di sisi lain, hal ini justru memperindah Jalan Braga dengan lukisan-lukisan yang penuh warna. Bahkan tak jarang, beberapa wisatawan mancanegara ingin wajahnya di lukis dan di gambar pada seniman-seniman jalanan Braga.

Penjual Lukisan di emperan Jalan Braga
Courtesy : Eki-Qushey Akhwan
Turis Mancanegara sedang dilukis oleh seniman Braga
Courtesy : KOMPAS
Ngomong-ngomong soal seniman jalanan di Jalan Braga, bukan hanya pelukis saja yang ada di Jalan Braga tapi banyak pengamen yang tentunya beda dengan pengamen lain di Kota Bandung. Contohnya pengamen Kecapi yang membawakan lagu pop yang hits. Selain itu, ada pantomim yang lumayan menghibur pejalan kaki di Jalan Braga.

Pengamen Kecapi
Pantomim Jalan Braga
Beberapa kali Jalan Braga pernah dibebaskan dari kendaraan bermotor, dan hanya pejalan kaki, becak dan sepeda saja yang bisa lewat Jalan Braga ini. Tapi hal itu malah membuat kemacetan parah di sekitar Jalan Braga, yang akhirnya kendaraan bermotor pun kembali diizinkan untuk lewat di Jalan Braga.

Jalan Braga Tanpa Kendaraan Bermotor
Courtesy : www.devantART.com
Tapi setiap satu tahun sekali di Jalan Braga selalu diselenggarakan satu event yang bertajuk Braga Festival. Selama satu festival ini berlangsung kendaraan bermotor tidak bisa lewat ke Jalan Braga, karena semua badan Jalan Braga digunakan oleh warga Kota Bandung dan wisatawan untuk berpesta pora dan menyaksikan berbagai pergelaran seni dan budaya baik tradisional maupun modern.

Suasana Braga Festival 2009
Kontroversi juga pernah terjadi antara Budayawan dan Sejarahwan Kota Bandung dengan pemerintah Kota Bandung ketika pihak pemerintah membongkar pasang jalan batu yang menggantikan jalan aspal yang seringkali rusak.  Saat itu jalan aspal yang sering rusak digantikan oleh jalan batu andesit oleh Pemkot Bandung, sayangnya jalan batu tersebut seringkali mengalami kerusakan. Terpaksa Pemkot Bandung pun harus membongkar dan memperbaiki jalan tersebut, sehingga menimbulkan kemacetan dan mengurangi keindahan Jalan Braga. Hal serupa juga dikeluhkan oleh pengusaha di sekitar Jalan Braga, tapi semua itu di tanggapi positif oleh Pemkot Bandung. Akhirnya, Jalan Braga pun selesai diperbaiki dengan tetap mempertahankan jalan batu andesit dengan tujuan menambah kesan Eropa nya.
Perbaikan Jalan Braga
Jalan Braga dengan Jalan Batuan Andesit

Jumat, 04 Februari 2011

Lapangan Tegal Lega, sang Icon Bandung Lautan Api

Lapangan Tegal Lega adalah sebuah lapangan dimana terdapat icon Kota Bandung, yaitu monumen "Bandung Lautan Api". Sebuah Monumen yang merupakan simbol perjuangan dan kerelaan para penduduk yang mengungsi keluar Bandung pada 24 Maret 1946. Peristiwa “Bandung Lautan Api” merupakan suatu rangkaian peristiwa sejarah yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946, dalam waktu tujuh jam sekitar 200.000 penduduk Bandung mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka lalu meninggalkan kota menuju pegunungan di selatan kota Bandung, dan beberapa tahun kemudian lagu “Halo-halo Bandung” ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta yang telah menjadi Lautan Api. (bandungheritage.org). Sayangnya tidak semua semua tahu, bahwa jejak peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) juga diabadikan dalam 10 stilasi yang tersebar di 10 lokasi. Stilasi ini berupa monumen mini karena hanya berukuran tinggi sekitar 1,5m. Adapun cerita lengkap mengenai kesepuluh stilasi bisa anda baca di sini .

Di Lapang Tegal Lega ini  terdapat berbagai macam kegiatan, seperti kegiatan olahraga, rekreasi keluarga, dan kegiatan jual beli. Biasanya kegiatan ini akan ramai di hari libur, seperti Sabtu dan Minggu. Kegiatan utamanya bukan olah ‘raga’ tapi olah ‘mata’ dan ajang bergaya muda-mudi Bandung.

Terkadang Lapang Tegal Lega ini juga sering dipakai untuk acara-acara besar, seperti konser musik dan pergelaran seni lainnya. Acara yang paling sering dipergelarkan di Lapang Tegal Lega ini adalah konser musik band GIGI di setiap bulan Ramadhan.

Semenjak adanya peringatan Konfrensi Asia Afrika beberapa tahun lalu, kawasan ini menjadi agak rapi, dibanding sebelum-sebelumnya. 

Tapi fasilitas ini hendaknya harus dijaga bersama oleh semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakatnya. Toh, ini juga untuk kesejahteraan kita bersama. 


DSCN2597
Site Plan Kawasan Tegal Lega
Tugu-Obor-Lap-Tegalega
Monumen Bandung Lautan Api