Sabtu, 01 Januari 2011

Kang Nano S (Alm) Sang Maestro Sunda

"Rambut panjang nu ngareumbai
 disangkeh panangan nyampai
 Kabagjaan nu duaan
 Nu duaan..."


Itulah penggalan lagu berjudul "Kalangkang" (Bayangan). Bagi Anda penggemar lagu Sunda mungkin lagu ini tidak asing. Lagu yang syahdu ini diciptakan oleh seorang maestro Sunda bernama Nano Suratno.

Kang Nano S
Kang Nano S selama hidupnya sudah menciptakan banyak sekali lagu-lagu Sunda. Beliau juga sangat ahli memainkan alat-alat musik Sunda seperti Kecapi, Kendang dan Suling.

Selain itu, beliau juga aktif menulis karya tulis fiksi maupun non-fiksi dan karya tulisnya mengisi media-media cetak di Bandung. Beberapa judul buku pun pernah ia buat.

Kang Nano Lahir di Garut, Jawa Barat, 4 April 1944. 


Setelah lulus SMP beliau melanjutkan pendidikannya ke Konservatori Karawitan (Kokar) di Bandung (1961) yang ketika itu dipimpin Daeng Sutigna. Setelah tamat, ia mengajar di SMP 1 Bandung dan kemudian pindah ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Beberapa tahun kemudian melanjutkan kuliah ke Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung dan STSI Jurusan Karawitan Sunda sampai selesai.

Beliau mendirikan kelompok seni Sunda bernama Gentra Madya pada tahun 1972, namun sebelumnya beliau bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Koko. Pada Festival Komponis Muda Indonesia 1 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1979), komposisinya," Sang Kuriang "  mendapat perhatian sebagai komposisi yang sarat dengan kekuatan akar etnis karawitan Sunda yang penuh inovasi pengembangan.

Beliau pernah mendapat beasiswa fellowship dari The Japan Foundation selama setahun di Tokyo Gedai (Universitas Kesenian Tokyo), untuk mempelajari perbandingan tangga nada Sunda dan Jepang, terutama antara alam musik Kecapi dan Koto. Selain itu, ia juga belajar meniup Sakuhachi dan memetik Shamisen, yang kemudian membuat kolaborasi alat-alat itu pada ciptaannya dan membuat beberapa lagu karawitan Sunda yang berbahasa Jepang, diantaranya Katakana Hiragana Uta, Ueno Koen dan D'enshano Uta (1981-1982). Pernah di undang oleh departemen musik Universitas Santa Cruz untuk mengajar dan membuat pergelaran dalam Spring Performance (1990).

Keprofesionalannya dalam dalam kesenian Sunda semakin terbukti ketika ia di minta oleh Min on, impresario, sebuah kelompok kesenian Jepang yang besar, untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota di seluruh Jepang selama 40 hari dengan 22 kali pertunjukan. Pertunjukan ini mendapat sambutan antusias karena keindahan yang di tampilkan dengan disiplin yang tinggi (1988). Pertunjukan itu dimintaa untuk diulang lagi berkali-kali untuk tampil dikota-kota lain.

Popularitasnya semakin menanjak setelah album-album rekaman kasetnya banyak diminati oleh masyarakat, diantara Kalangkang (Bayangan 1989), Cinta Ketok Magic (1992), yang meledak di pasaran sehingga mendapat HDX Award tingkat Nasional. Meskipun lagu-lagu ciptaannya berjenis karawitan, namun dengan cepat memperoleh penggemar di seluruh Indonesia, bukan hanya dari kalangan orang sunda saja, apalagi setelah lagu-lagu itu dijadikan pop Sunda. Selain itu, Ia juga membuat lagu untuk Gending Karesmen bersama Wahyu Wibisana, Raf, dll. Gending Karesmen ciptaannya antara lain Deugdeug Pati Jaya Perang, Raja Kecit, 1 Syawal di Alam Kubur, Perang, dll.

Ia juga dikenal sebagai penulis sajak dan cerita pendek berbahasa Sunda. Karyanya pernah di muat dalam majalah Mangle, Hanjuang, dll. Cerita pendeknya dikumpulkan dengan judul Nu Baralik Manggung (Yang Pulang sehabis mengadakan pertunjukan). Ia juga menyusun Buku Kawih untuk bahan pelajaran di Sekolah Menengah dengan judul Haleuang Tandang (1976).

Negara-negara yang pernah dikunjunginya untuk mengadakan pertunjukan antara lain Jepang, Hongkong, Philipina, Belanda, Australia, Amerika Serikat, dll. Pada bulan Oktober 1999, di Jepang, ia memainkan lagu ciptaannya yang berjudul Hiroshima, yang dibuat khusus untuk memenuhi permintaan Walikota Hiroshima yang mengenalnya sebagai pencipta lagu. Diangkat menjadi Kepala Taman Budaya Propinsi Jawa Barat sejak 1995 sampai pensiun (2000). (tim redaksi) sumber Blog Penggemar Lagu Sunda.


Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Immanuel, Kota Bandung Rabu (29/9) sekitar pukul 23.15.Beliau meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat karena mengalami pecah pembuluh darah. Kala itu, Nono juga dikabarkan tak sadarkan diri.

Walaupun beliau sudah tiada, tapi karya-karyanya akan selalu ada di hati Urang Sunda. Dan semoga akan terus bermunculan seniman-seniman Sunda yang berprestasi seperti beliau.

2 komentar:

  1. wah sae kang artikel na..
    http://sakahayang.se.gp

    BalasHapus
  2. Oh, siga pesbuk kitu nya kang?

    Sae...

    BalasHapus